DIGDoc Minikino: bag.1 MENGENAL DOKUMENTER PUITIS

DIGDoc Minikino:
Serial Mengenal Film Dokumenter, bag.1
 MENGENAL DOKUMENTER PUITIS
Sabtu, 24 Mei 2014, jam 19:30 – 21:30
di minihall Irama Indah

Undangan Terbuka

[ DOWNLOAD – booklet_online.pdf ]

gmii-header-DigDoc-Mei2014

Yayasan InDocs (Jakarta) bekerjasama dengan Minikino sebagai partner lokal di Denpasar mempersembahkan 6 seri Screening dan Diskusi untuk mengenal dan mengerti berbagai bentuk/gaya Film Dokumenter dan sejarahnya.

ke – 6 – seri ini akan ditayangkan / screening selama tahun 2014 (detail di minikino.org), dan mengundang siapa saja yang tertarik untuk belajar dan mengetahui lebih jauh sejarah film dokumenter yang juga merupakan sejarah film secara umum.

Setiap seri penayangan akan diikuti dengan diskusi dan materi tulis sebagai bahan bacaan lebih mendalam.

panorama_gmii
========================
DIGDoc Minikino:
Serial Mengenal Film Dokumenter, bag.1. MENGENAL DOKUMENTER PUITIS

Dokumenter jenis ini berkembang pada dekade 1920-an, beriring dengan percobaan-percobaan pada dunia sinema yang berkembang di daratan Eropa yang dimulai pada masa itu. Kehadirannya untuk ‘melawan’ tradisi film fiksi Hollywood terutama pada tiga elemen utama:

1 karakter yang sadar diri dan punya aspirasi mengubah hidupnya,
2 hubungan sebab-akibat dalam penceritaan,
3 kesatuan ruang dan waktu dalam editing, ditandai dengan kesinambungan (continuity) dalam peristiwa. Perhatikan bahwa pada masa itu belum ada perbedaan yang tegas antara “film fiksi” dan “film dokumenter”, bahkan istilah “film dokumenter” belum dikenal.

Dokumenter puitis melawan ketiga elemen dalam film Hollywood di atas. Ia mengorbankan editing yang berkesinambungan dan mengutamakan pada asosiasi atau ritme ketimbang keutuhan cerita yang berdasar satu karakter. Subyeknya seringkali bukan satu-dua atau sekelompok kecil orang tetapi kumpulan orang tanpa identitas seperti dalam film garapan Joris Ivens yang berjudul Regen (1929) dan menitikberatkan pada kesan puitis dari turunnya butiran air hujan di kota Amsterdam. Kesan ini diumunculkan dari ritme, asosiasi dan hal-hal implisit lainnya ketimbang lewat cerita dan dialog yang eksplisit (jelas).

Dokumenter jenis ini juga lugas membuka alternatif cara memahami cerita dan pengetahuan karena menekankan pada membangun suasana lewat bahasa visual yang kuat dibandingkan proses transformasi perubahan karakter dan pembabakan seperti permulaan cerita, perkembangan dan akhir yang lazim dalam film fiksi saat itu.

Jenis dokumenter puitis menyajikan kemungkinan-kemungkinan baru dalam hal menyampaikan informasi, argumen atau sudut pandang. Suasana, mood, dan ritme editing lebih berperan penting dibanding logis tidaknya adegan. Hal-hal atau elemen untuk mejelaskan adegan (misalnya menggunakan teks atau suara) ditinggalkan. Representasi kenyataan yang menjadi ciri khas dokumenter dalam jenis dokumenter putis diartikan sebagai gabungan fragmen-fragmen (adegan-adegan), pengungkapan diri yang subyektif (bagaimana dunia menurut sudut pandang pembuat film secara subyektif), atau prilaku karakter atau benda yang tidak masuk akal (fiktif atau diarahkan oleh pembuat film).

gmii_regen_800px-x-600px_fbRegen
Joris Ivens / Belanda / 1929 / 12 menit
Satu hari di kota Amsterdam dan bagaimana kota itu berubah setelah cucuran deras air hujan. Rasa puitis dari film datang dari mood yang berubah dari hari yang cerah di jalanan kota Amsterdam ke guyuran air di kanal-kanal, jendela rumah, payung, dan di jalanan, hingga kota itu kembali cerah lagi.

Regen merupakan salah satu dari film yang lazim disebut sebagai city symphony (simfoni kota) dan banyak muncul di dekade 1920 – 1930-an, contoh lainnya Berlin: Symphony of a Great City / Walter Ruttman, 1927 dan Aimless Walk / Alexander Hammid, 1930 . Subyek kota dan manusia-manusia yang menghuninya menjadi fokus dalam film simfoni kota.

Subyek dalam Regen adalah kota Amsterdam. Kota Amsterdam dan alam diperlihatkan sebagai satu kesatuan yang saling mempengaruhi. Joris Ivens menggambarkan suasana kota suatu hari saat hujan. Ivens sering merekam gambarnya dari sudut rendah (low angles)—jalanan kota yang terbuat dari batu, lalu mengkontraskannya dengan sudut pengambilan gambar dari atas, dimana air hujan berasal. Keputusan Ivens merekam filmnya saat hujan turun adalah eksperimentasinya dengan film simfoni kota pada masa itu, yang biasanya direkam saat hari cerah dan cahaya baik. Dengan merekam di bawah guyuran air hujan dan gambar-gambarnya akan genangan air dan kanal-kanal, maka kamera tidak lagi hanya menangkap manusia dan gedung secara langsung, tapi juga melalui refleksi mereka di atas air.
gmii_Diagonal-Symphony_800px-x-600px_fbSymphony Diagonale
Viking Eggeling / Swedia / 1924 / 5 menit Symphony Diagonale dibuat hanya dari potongan kertas dan aluminium foil, lalu pola-pola yang dibentuk oleh dua material itu difoto satu per satu tiap framenya. Garis dan kurva muncul silih berganti lalu hilang membentuk pola baru menjadi gambar telinga, harpa, dan alat music lainnya. Tak ada music yang mendampingi film ini, karena tempo visualnya sendiri dimaksudkan seperti musik untuk mata.

Eksperimentasi adalam sinema marak dilakukan pada masa awal kehadiran medium film (akhir abad 19 sampai 1930-an_ dan merupakan persilangan antara sinema sebagai medium untuk merekam dan ragam bentuk seni dari seniman-seniman avantgarde modern di abakd ke-20. Dua kaki penting dalam sinema dokumenter yaitu sinema sebagai cara untuk alat pamer (cinema of attraction) dan sinema untuk mengumpulkan bukti (scientific documentation).

Gambar-gambar yang direkam diarahkan ke perihal lain yang tidak setia pada obyek (manipulasi gambar) dan kenyataan (realisme) sebagai gaya. Cara pembuat film melihat dunia lebih merupakan prioritas dibanding mendemonstrasikan kemampuan kamera untuk merekam peristiwa secara akurat.

Film-film yang lahir dari seniman avant-garde masa ini antara lainnya The Smiling of Madame Beudet / Jean Epstein, 1923, Rythmus 23 / Hans Richter, 1923, dan Anemic Cinema / Marcel Duchamp, 1927. Senada dengan film-ilm tersebut, Symphony Diagonale adalah tentang dokumentasi proses Eggeling menyusun gambarnya seperti tautan not yang menyusun sebuah lagu. Gambar-gambar yang muncul menyusun ritme dan kenyataan yang hadir adalah subyektif dari mata si pembuat film.
gmii_sans-soleil_800px-x-600px_fbSans Soleil
Chris Marker / Prancis / 1983 / 100 menit
Chris Marker bukan hanya seorang pembuat film. Ia juga seorang penulis, seniman multi-media, dan fotografer. Chris Marker dalam Sans Soleil menyambung potongan-potongan gambar dari film Hitchcock, gambar dari film ataupun footage berita lain, maupun gambar yang ia rekam sendiri. Film dinarasikan oleh suara wanita sedang membacakan sebuah surat dari seorang juru kamera. Chris Marker seperti sedang menelisik kehidupan modern walau kita juga bisa beranggapan kalau ia sedang menelisik kehidupan dan pikirannya sendiri.

Hadirnya narasi voice-over yang membacakan surat itu adalah bagaimana kemampuan/ketidakmampuan ingatan untuk mengkreasikan ulang peristiwa yang sudah berlalu. Ini adalah salah satu fungsi penting dalam sinema dokumenter pada khususnya. Suara disandingkan dengan gambar-gambar peristiwa banal yang mengisi kehidupan sehari-hari orang di beberapa lokasi di belahan dunia.

Film ini tersusun dari kepingan-kepingan peristiwa layaknya sebuah puzzle, dan partisipasi kita sebagai penonton adalah menyusunnya untuk melihat suatu gambaran. Struktur tersebut dimaksudkan Marker seperti cara kerja ingatan, bagaimana saat kita melakukan aksi untuk mengingat masa lalu maka hal-hal acak muncul untuk membentuk apa yang kita mau untuk persepsikan dari ingatan itu.